
Jakarta – Di era pendidikan yang semakin kompetitif, banyak orang tua mulai mempertimbangkan untuk memberikan les tambahan sejak anak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Tidak sedikit yang merasa khawatir anak tertinggal pelajaran, sementara sebagian lainnya ingin mengembangkan potensi akademik maupun nonakademik sejak dini.
Namun, muncul pertanyaan penting: apakah les memang diperlukan sejak SD?
Jawabannya tidak selalu sama untuk setiap anak. Les dapat menjadi sarana pendukung yang bermanfaat jika dipilih sesuai kebutuhan, tetapi juga bisa menjadi beban apabila dilakukan tanpa mempertimbangkan kesiapan dan kondisi anak.
Sebagai orang tua, penting untuk memahami bahwa tujuan utama pendidikan di usia SD bukan hanya mengejar nilai, tetapi juga membangun karakter, rasa ingin tahu, kemampuan berpikir, dan kecintaan terhadap proses belajar.
Apakah anak SD harus mengikuti les?

Tidak semua anak SD membutuhkan les. Pada usia sekolah dasar, anak sedang berada dalam fase membangun fondasi belajar. Sekolah, keluarga, dan lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan belajar yang sehat.
Les sebaiknya dipandang sebagai dukungan tambahan, bukan kewajiban.
Beberapa anak mampu memahami materi dengan baik melalui pembelajaran di sekolah dan pendampingan sederhana di rumah. Namun, ada juga anak yang membutuhkan pendekatan berbeda agar lebih percaya diri dan nyaman saat belajar.
Karena itu, keputusan untuk memberikan les perlu didasarkan pada kebutuhan nyata, bukan karena tren atau perbandingan dengan teman sebaya.
Baca Juga : Khansa Kamilia Zalfa Persada Raih Bronze di International Kangaroo Mathematics Contest 2026
Tanda Anak Mungkin Membutuhkan Les
Sebelum mendaftarkan anak ke tempat les, perhatikan beberapa indikator berikut.
1. Anak Kesulitan Mengikuti Materi Pelajaran
Jika anak sering merasa tertinggal, bingung saat mengerjakan tugas, atau menunjukkan penurunan pemahaman secara konsisten, les dapat menjadi sarana pendamping belajar.
Fokus utamanya bukan mengejar nilai tinggi, tetapi membantu anak memahami konsep dengan cara yang lebih sesuai.
2. Anak Memiliki Minat atau Potensi Tertentu

Les tidak selalu berkaitan dengan akademik.
Anak yang menunjukkan ketertarikan pada matematika, bahasa Inggris, seni, olahraga, sains, atau bidang lainnya dapat diberikan ruang untuk berkembang melalui program pendamping yang tepat.
3. Anak Membutuhkan Pendekatan Belajar yang Berbeda
Setiap anak memiliki gaya belajar yang unik. Ada yang lebih cepat memahami melalui praktik, diskusi, visual, atau aktivitas langsung.
Les dapat membantu memberikan metode yang lebih personal.
4. Orang Tua Membutuhkan Dukungan Pendampingan Belajar
Rutinitas keluarga yang padat terkadang membuat pendampingan belajar tidak selalu optimal. Dalam kondisi seperti ini, les bisa menjadi solusi pendukung, bukan pengganti peran orang tua.
Kapan Les Tidak Perlu Dipaksakan?
Ada kondisi ketika les justru sebaiknya ditunda atau dikurangi.
Anak Sudah Terlihat Lelah
Jika setelah sekolah anak terlihat kelelahan secara fisik dan emosional, jadwal tambahan yang terlalu padat bisa mengurangi kualitas istirahat dan waktu bermain.
Anak Kehilangan Semangat Belajar
Belajar yang terlalu terstruktur sepanjang hari dapat membuat anak cepat jenuh.
Jadwal Anak Terlalu Penuh
Usia SD tetap membutuhkan waktu untuk:
- bermain,
- berinteraksi sosial,
- beribadah,
- beristirahat,
- Dan mengeksplorasi lingkungan.
Keseimbangan aktivitas sangat penting untuk perkembangan menyeluruh.
Cara Memilih Les yang Sesuai Kebutuhan Anak
Jika orang tua memutuskan untuk memberikan les, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1. Tentukan Tujuan yang Jelas
Tanyakan terlebih dahulu:
- Apakah untuk membantu memahami pelajaran?
- Mengembangkan bakat?
- Menambah kepercayaan diri?
- Atau membangun kebiasaan belajar?
Tujuan yang jelas membantu memilih program yang tepat.
2. Libatkan Anak dalam Keputusan
Anak perlu merasa bahwa pendapatnya didengar.
Ajak berdiskusi:
- Mata pelajaran apa yang paling disukai?
- Bagian mana yang terasa sulit?
- Apakah ia nyaman mengikuti kelas tambahan?
Keterlibatan anak dapat meningkatkan motivasi belajar.
3. Pilih Intensitas yang Seimbang
Lebih banyak belum tentu lebih baik.
Untuk usia SD, kualitas pembelajaran dan konsistensi lebih penting dibandingkan dengan jumlah jam yang berlebihan.
4. Perhatikan Metode Mengajar
Carilah program yang:
- interaktif,
- menyenangkan,
- mendorong anak bertanya,
- Dan tidak hanya berfokus pada hafalan.
5. Evaluasi Secara Berkala
Setelah beberapa minggu atau bulan, lakukan evaluasi:
- Apakah anak lebih percaya diri?
- Apakah proses belajar menjadi lebih nyaman?
- Apakah anak tetap memiliki waktu bermain dan beristirahat?
Jika tidak ada dampak positif, jangan ragu melakukan penyesuaian.
Peran Orang Tua Tetap Tidak Tergantikan
Meskipun anak mengikuti les, kehadiran orang tua tetap menjadi faktor utama keberhasilan belajar.
Pendampingan sederhana seperti:
- menanyakan aktivitas sekolah,
- mendengarkan cerita anak,
- memberi apresiasi terhadap usaha,
- dan menciptakan suasana belajar yang positif,
sering kali memberikan pengaruh yang lebih besar daripada tambahan jam belajar.
Anak yang merasa didukung biasanya memiliki motivasi belajar yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Membangun Kebiasaan Belajar yang Sehat di Rumah
Selain mempertimbangkan les, orang tua dapat memulai dari kebiasaan kecil di rumah:
- Membuat jadwal belajar singkat dan konsisten.
- Menyediakan sudut belajar yang nyaman.
- Membatasi distraksi saat belajar.
- Membacakan buku bersama.
- Mengapresiasi proses, bukan hanya hasil.
Dengan kebiasaan tersebut, anak belajar bahwa pendidikan adalah perjalanan yang menyenangkan, bukan tekanan.
Les sejak SD bukanlah keharusan untuk semua anak. Yang terpenting adalah memahami kebutuhan, minat, dan kesiapan masing-masing anak.
Les dapat menjadi sarana pendukung yang efektif apabila membantu anak berkembang secara akademik maupun karakter. Namun, keseimbangan antara belajar, bermain, dan kehidupan keluarga tetap perlu dijaga.
Di SD Islam Al Azhar 2 Pasar Minggu, kami meyakini bahwa setiap anak memiliki potensi yang unik. Pendampingan yang tepat, lingkungan belajar yang positif, dan kolaborasi antara sekolah serta orang tua menjadi kunci tumbuhnya generasi yang berkarakter, kompeten, dan mencintai proses belajar.
Ingin mengetahui bagaimana pendekatan pembelajaran yang mendukung perkembangan akademik dan karakter anak? Kunjungi SD Islam Al Azhar 2 Pasar Minggu dan temukan lingkungan belajar yang membantu setiap murid berkembang sesuai potensinya.
Hubungi : 081299525365 (WhatsApp)
Informasi Pendaftaran PMB : SD Islam Al Azhar 2 Pasar Minggu
